SJ Health - шаблон joomla Авто
Breaking News:
Cara Mendeteksi Kanker Payudara Sejak Dini -- "Jakarta – Kanker payudara dapat menyerang siapa saja, termasuk perempuan muda. Karena ..." -- 01 October 2012
Tepat...! Perempuan Jadi Kunci Utama Pembangunan Nasional -- "JAKARTA – Kunci utama pembangunan nasional tidak hanya terletak di atas pundak laki-laki. ..." -- 05 December 2012
Wow...! GPSP Latih Generasi Zaman Now Bangun Kesadaran Gender -- "JAKARTA- Yayasan GPSP (Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan) menyadari betul pentingnya ..." -- 01 October 2012

 

Jakarta – Ramidi tak pernah benar-benar merasa tenang saat berada di sekolah. Bukan karena pikirannya melayang untuk bermain di luar, melainkan tunggakan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) yang membuat dia resah.

Ramidi bukan anak orang kaya. Ibunya tidak bekerja. Ayahnya nelayan, yang sudah setahun belakangan tumbang karena stroke ringan. Otomatis, keluarga Ramidi hanya mengandalkan penghasilan dari dua kakaknya, yang bekerja sebagai buruh pabrik dan nelayan. Kondisi serba kekurangan itu menyebabkan pembayaran SPP-nya di sekolah tersendat. Bahkan per bulan ini, sudah 14 bulan dia belum kunjung membayarkan iuran SPP yang besarnya Rp300.000 per bulan.

“Kalau ulangan (ujian, Red), mama sering dipanggil ke sekolah. Pasti diomelin karena belum bayar SPP,” kata salah satu siswa SMK swasta di Jakarta Utara tersebut, kepada Jurnas.com pada Sabtu (14/9).

Tidak hanya ditanyakan perihal alasan belum membayar iuran SPP, Ramidi mengatakan, sekolah kerap kali memintanya membuat perjanjian yang berisi tenggat waktu pembayaran SPP.

“Jadi setiap ujian itu kita bikin perjanjian, kapan ini mau dibayar,” tutur dia.

Kini, Ramidi dapat bernapas lega. Pasalnya, Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP) bersedia melunasi tunggakan SPP Ramidi, dengan nilai bantuan sebesar Rp5.800.000.

 

“Terima kasih sekali. Saya merasa sangat bersyukur karena sudah membantu biaya saya,” ucap pria kelahiran Jakarta, 27 Juni 2001 ini dengan mata berkaca-kaca, usai menerima langsung bantuan dari Ketua GPSP Linda Agum Gumelar.

Sementara Ketua GPSP Linda mengatakan, sebelum bantuan diberikan kepada Ramidi, dia sudah mengecek langsung kondisi orang tua Ramidi di rumahnya. Bahkan tak Cuma Ramidi, Linda menyebut GPSP juga memberikan bantuan pelunasan SPP bagi dua anak kurang beruntung lainnya, yakni Sumiyati (Rp6.400.000) dan Nurhayani (Rp3.400.000).

“Dengan kemampuan yang bisa dilakukan GPSP, kami membantu empat anak yang sudah tidak bayar uang SPP sejak Agustus tahun lalu. Sekarang kami bantu juga dengan transportnya, dan sekaligus juga bantuan berupa laptop,” terang Linda.

Atas bantuan itu, Linda berharap dapat membantu pemerintah dalam memecahkan persoalan-persoalan sosial, yang ada di akar rumput.

“Saya kira pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, makanya masyarakat juga butuh bergandengan tangan,” tandas dia.

 

Sumber : http://www.jurnas.com/

Jakarta – Di era teknologi dewasa ini, komputer laptop mungkin bukan lagi tergolong sebagai barang mewah, bila dibandingkan dengan ponsel pintar seharga puluhan juta rupiah. Namun tidak demikian bagi Siti Masyitoh. Hatinya tak kuasa menahan bahagia, kala mendapatkan bantuan sebuah laptop hitam berukuran 15 inci dari Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP).

 

Ini kali pertama Masyitoh memiliki laptop. Perempuan yatim ini tidak pernah membayangkan bisa memiliki gadget mahal tersebut, karena ibunya cuma bekerja sebagai buruh pengupas kerang hijau. Keresahannya bahkan berawal sejak dulu bersekolah di SMA 111 Jakarta. Masyitoh terpaksa menyisihkan uang jajannya yang tak seberapa, untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah di warung internet (warnet).

 

“Waktu itu bayarnya lumayan (mahal) karena ditambah harus nge-print tugas,” tutur Masyitoh kepada Jurnas.com pada Sabtu (14/9), usai menerima hadiah laptop dari Ketua GPSP Linda Agum Gumelar di Jakarta. Dengan kondisi tersebut, perempuan kelahiran Jakarta, 25 Juli 2000 ini enggan patah arang. Karena itu, sepulang sekolah dia tak pernah absen membantu ibunya mengupas kerang hijau, dengan harapan hasil jerih payah mereka dapat digunakan untuk mencukupi keperluan sehari-hari.

 

“Sehari dapat Rp40.000. Nanti itu dibagi untuk keperluan saya, ibu, dan adik untuk keperluan sehari-hari. Kalau tidak digunakan untuk uang saku sekolah, ibu selalu bilang mau beli keperluan apa,” ujar dia. Kini, Masyitoh sudah berkuliah di Institut Kesehatan Indonesia dengan modal beasiswa. Dia berharap, laptop pemberian GPSP tersebut menjadi pelecut semangat baginya, untuk menjadi orang sukses yang dapat membanggakan orang tua.

“Agar ibu tidak kerja lagi, biar aku saja yang kerja,” imbuh perempuan yang bercita-cita sebagai diplomat Turki tersebut.

Selain mendapatkan satu buah laptop, GPSP juga memberikan bantuan lainnya berupa uang saku sebesar Rp600.000 per bulan. Bantuan senilai Rp2.400.000 itu diserahkan setiap bulannya hingga Desember nanti. Sementara Ketua GPSP Linda Agum Gumelar mengatakan, bantuan ini merupakan bagian dari upaya membantu pemerintah dalam memecahkan persoalan-persoalan sosial, yang ada di akar rumput. Dia berharap, Masyitoh yang berasal dari Yayasan Rumpun Anak Pesisir, dapat memanfaatkan laptop tersebut untuk meneruskan perjuangannya menempuh pendidikan.

 

“Saya kira pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, makanya masyarakat juga butuh bergandengan tangan,” kata Linda.

“Saya harap juga yayasan itu berjalan dengan baik, kemudian mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, sehingga tidak sebanyak itu lagi persoalan-persoalan sosial yang terjadi,” tambah Linda.

Pada Hari Kamis 21 Februari 2019 di Ruang Merica Hall Hotel Menara Peninsula. Ibu Linda Agum Gumelar sbg Ketua GPSP dikukuhkan sebagai salah satu Pembina Pengurus Pusat Komunitas Relawan Emergency Kesehatan Indonesia periode 2019 - 2023.

Read more...

Pada Hari Rabu 13 Februari 2019 Ibu Noesje mewakili GPSP dalam acara yang diadakan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Acara bertajuk:

"SOSIALISASI PANDUAN SINERGI PROGRAM PP & PA BAGI PEMERINTAH DAN LEMBAGA MASYARAKAT"

Sebagai pembicara pada acara tersebut, ASDEP Ibu Merdian Werdiastuti & DR Sri Astuti M.Pd

 

Berkaca pada sejarah Indonesia, kiprah perempuan di masa perjuangan tidak bisa dinafikan. Sebut saja Cut Nyak Dien, Nyi Ageng Serang, Kartini, hingga Dewi Sartika, semuanya merupakan perempuan-perempuan hebat yang mencurahkan tenaganya untuk kemerdekaan Indonesia.

Read more...

Social Comments and Sharing

Top view

15.09.2019

Kisah Ramidi Nunggak SPP

  Jakarta – Ramidi tak pernah benar-benar

+ View

15.09.2019

Hadiah Laptop untuk Si

Jakarta – Di era teknologi dewasa ini, komputer

+ View

22.02.2019

Ibu Linda Agum Gumelar

Pada Hari Kamis 21 Februari 2019 di Ruang Merica

+ View

12.02.2019

SOSIALISASI PANDUAN

Pada Hari Rabu 13 Februari 2019 Ibu Noesje

+ View

20.12.2018

Pembahasan Usulan

Kegiatan Berkala GPSP, rapat pengurus yang

+ View

11.09.2012

Memikul Indonesia di

Berkaca pada sejarah Indonesia, kiprah perempuan

+ View

Most Popular

Hadiah Laptop untuk Si ...

Jakarta – Di era teknologi dewasa ini, komputer ...

+ View

Ibu Linda Agum Gumelar ...

Pada Hari Kamis 21 Februari 2019 di Ruang Merica ...

+ View

Jika Melapor, Pecandu ...

Jakarta – Tidak dipungkiri peredaran narkotika di ...

+ View

Inspirasi Perempuan

Anita Mae: Keahlian Jadi ...

Jakarta – Pemberdayaan perempuan di Indonesia ...

Diskusi Nasional: Peran ...

Acara Diskusi Nasional bertajuk "Peran Perempuan ...

Atlet Indonesia Harus ...

Jakarta – Prestasi Indonesia di kancah Asia saat ...

Linda Gumelar Tak Mau ...

Setelah berhenti sebagai Menteri Pemberdayaan ...

  • Prev
  • Mitra & Partner
Template Settings
Select color sample for all parameters
Red Green Olive Sienna Teal Dark_blue
Background Color
Text Color
Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family
Direction
Scroll to top